Selasa, 17 November 2009

syair damai

lentera kehidupan


lihatlah tanah yang dijanjikan
perdamaian hanya angan-angan
kucoba tatap sinar rembulan
tapi tak ku temukan harapan

di tengah berbagai guncangan
kan ada sinar harapan
walau dihujam peperangan
selalu ada terang di balik awan

tapi apa yang terjadi
semua manusia tak punya hati
perdamaian hanya kunci mati
tuk tutup peperangan yang terjadi

alam mungkin sudah bosan
dengan perang yang kita luncurkan
dan alam pun memberikan ancaman
sebelum damai yang berperan

karena semua rahmat Tuhan
sinar lentera kehidupan
menerangi jiwa dan membangkitkan
dikuatkan oleh perdamaian


karya: ahmad s
esa s
fajar u
ilyas n f

Senin, 16 November 2009

penerima nobel perdamaian

Daftar penerima Nobel Perdamaian
Penghargaan Perdamaian Nobel adalah satu dari lima Penghargaan Nobel yang diadakan atas permintaan oleh penemu dan industrialis Swedia Alfred Nobel.
Tahun Nama Karya yang Diberi Penghargaan
1901 Jean Henri Dunant (Swiss) perannya dalam mendirikan Komite Palang Merah Internasional
Frédéric Passy (Perancis) menjadi salah satu pendiri utama Inter Uni Parlementer dan juga penyelenggara utama pertama Kongres Perdamaian Universal
1902 Élie Ducommun (Swiss) Sekretaris Kehormatan Biro Perdamaian Permanen Internasional
Charles Albert Gobat (Swiss) Sekretaris Jenderal Inter Uni Parlementer,Sekretaris Kehormatan Biro Perdamaian Permanen Internasional
1903 Sir William Randal Cremer (Inggris)
1904 Institut de droit international (Belgia)
1905 Bertha Sophia Felicita Baronin von Suttner (Austria-Hongaria)
1906 Theodore Roosevelt (Amerika Serikat)
1907 Ernesto Teodoro Moneta (Italia) dan Louis Renault (Perancis)
1908 Klas Pontus Arnoldson (Swedia) dan Fredrik Bajer (Denmark)
1909 Auguste Marie François Beernaert (Belgia) dan Paul Henri Benjamin Balluet d'Estournelles de Constant (Prancis)
1910 Bureau international permanent de la paix (Swiss)
1911 Tobias Michael Carel Asser (Belanda) dan Alfred Hermann Fried (Austria-Hongaria)
1912 Elihu Root (Amerika Serikat)
1913 Henri-Marie La Fontaine (Belgia)
1914
tidak ada
1915
1916
1917 Palang Merah Internasional (Swiss)
1918
tidak ada
1919 Thomas Woodrow Wilson (Amerika Serikat)
1920 Léon Victor Auguste Bourgeois (Perancis)
1921 Karl Hjalmar Branting (Swedia) dan Christian Lous Lange (Norwegia)
1922 Fridtjof Wedel-Jarlsberg Nansen (Norwegia)
1923
tidak ada
1924
1925 Joseph Austen Chamberlain (Inggris) dan Charles Gates Dawes (Amerika Serikat)
1926 Aristide Briand (Prancis) dan Gustav Stresemann (Jerman)
1927 Ferdinand Buisson (Prancis) dan Ludwig Quidde (Jerman)
1928
tidak ada
1929 Frank Billings Kellogg (Amerika Serikat)
1930 Lars Olof Nathan Söderblom (Swedia)
1931 Laura Jane Addams (Amerika Serikat) dan Nicholas Murray Butler (Amerika Serikat)
1932
tidak ada
1933 Sir Ralph Norman Angell (Inggris)
1934 Arthur Henderson (Inggris)
1935 Carl von Ossietzky (Jerman)
1936 Carlos Saavedra Lamas (Argentina)
1937 Edgar Algernon Robert Gayscone-Cecil (Inggris)
1938 Office international Nansen pour les réfugiés (Swiss)
1939
tidak ada
1940
1941
1942
1943
1944 Komite Internasional Palang Merah (Swiss)
1945 Cordell Hull (Amerika Serikat)
1946 Emily Greene Balch (Amerika Serikat) dan John Raleigh Mott (AS)
1947 Friends Service Council (Inggris) dan American Friends Service Committee (Amerika Serikat)
1948
tidak ada
1949 Sir John Boyd Orr (Inggris)
1950 Ralph Johnson Bunche (Amerika Serikat)
1951 Léon Jouhaux (Perancis)
1952 Albert Schweitzer (Perancis)
1953 George Catlett Marshall (Amerika Serikat)
1954 UNHCR
1955
tidak ada
1956
1957 Lester Bowles Pearson (Kanada)
1958 Dominique Pire (Belgia)
1959 Philip John Noel-Baker (Inggris)
1960 Albert John Lutuli (Afrika Selatan)
1961 Dag Hjalmar Agne Carl Hammarskjöld (Swedia)
1962 Linus Carl Pauling (Amerika Serikat)
1963 Komite Internasional Palang Merah dan Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (Swiss)
1964 Martin Luther King Jr (Amerika Serikat)
1965 UNICEF
1966
tidak ada
1967
1968 René Cassin (Perancis)
1969 Organisasi Buruh Internasional
1970 Norman Ernest Borlaug (Amerika Serikat)
1971 Willy Brandt (Jerman Barat)
1973 Henry Alfred Kissinger (Amerika Serikat) dan Lê Ðức Thọ (Vietnam, menolak)
1974 Seán MacBride (Irlandia) dan Eisaku Satō (佐藤榮作) (Jepang)
1975 Andrei Dmitrievich Sakharov (Uni Soviet)
1976 Betty Williams dan Mairead Corrigan (Irlandia Utara)
1977 Amnesti Internasional (London) melindungi hak-hak asasi manusia tahanan hati nurani
1978 Mohamed Anwar al-Sadat (Mesir) dan Menachem Begin (Israel)
1979 Bunda Teresa (India) Pemimpin Misionaris Charitas
1980 Adolfo Pérez Esquivel (Argentina)
1981 UNHCR
1982 Alva Reimer Myrdal (Swedia) dan Alfonso García Robles (Meksiko)
1983 Lech Walesa (Polandia)
1984 Desmond Mpilo Tutu (Afrika Selatan)
1985 International Physicians for the Prevention of Nuclear War (Amerika Serikat)
1986 Elie Wiesel (Amerika Serikat)
1987 Óscar Rafael de Jesús Arias Sánchez (Kosta Rika)
1988 United Nations Peacekeeping Forces
1989 Dalai Lama XIV (Tibet) perjuangannya untuk pembebasan Tibet secara konsisten menentang penggunaan kekerasan. Dia telah menganjurkan damai bukan hanya solusi yang didasarkan pada toleransi tetapi juga saling menghormati dalam rangka melestarikan sejarah dan warisan budaya umat-Nya.
1990 Mikhail Sergeyevich Gorbachev (Uni Soviet)
1991 Aung San Suu Kyi (Myanmar) untuk perjuangan nonkekerasan untuk demokrasi dan hak asasi manusia
1992 Rigoberta Menchú Tum (Guatemala)
1993 Nelson Mandela (Afrika Selatan) dan Frederik Willem de Klerk (Afrika Selatan) pekerjaan mereka untuk penghentian damai rezim apartheid dan untuk meletakkan dasar bagi demokrasi baru Afrika Selatan
1994 Yasser Arafat (Palestina), Shimon Peres (Israel) dan Yitzhak Rabin (Israel)
1995 Joseph Rotblat (Polandia/Inggris) dan Pugwash Conferences on Science and World Affairs (Kanada)
1996 Carlos Filipe Ximenes Belo dan Xanana Gusmao (Indonesia yang telah memisahkan diri menjadi negara Timor Leste), diterima oleh José Manuel Ramos Horta (Timor Leste)
1997 International Campaign to Ban Landmines dan Jody Williams (Amerika Serikat)
1998 John Hume dan William David Trimble (Amerika Serikat)
1999 Dokter Lintas Batas
2000 Kim Dae Jung (金大中) (Korea Selatan)
2001 PBB dan Kofi Atta Annan (Ghana)
2002 Jimmy Carter (Amerika Serikat)
2003 Shirin Ebadi (شیرین :عبادی), (Iran)
2004 Wangari Muta Maathai (Kenya)
2005 Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan Mohamed ElBaradei (Mesir)
2006 Muhammad Yunus dan Grameen Bank (Bangladesh)
2007 Albert Arnold Gore (Amerika Serikat) dan IPCC
2008 Martti Oiva Kalevi Ahtisaari (Finlandia)
2009 Barack Obama (Amerika Serikat) usaha yang luar biasa untuk memperkuat diplomasi internasional dan kerjasama antarbangsa

Minggu, 15 November 2009

dunia sebagai panggung sandiwara?

Dunia ini panggung sandiwara

adalah frase yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It. Monolog ini mengumpamakan dunia ini sebagai sebuah panggung sandiwara dan kehidupan manusia seperti sebuah sandiwara, dan menerangkan tentang tujuh tingkatan usia manusia, yang terkadang disebut sebagai tujuh usia manusia: bayi, anak sekolah, pecinta, prajurit, keadilan, pantaloon, dan masa kanak-kanak kedua, "tanpa gigi, tanpa mata, tanpa rasa, tanpa semuanya". Maksud Shakespeare adalah bahwa dunia ini tidak lain adalah panggung teater dan manusia adalah aktornya. Sejak lahir manusia memasuki dunia teater dan terus berakting sesuai dengan usia mereka, hingga pada usia tua mereka ketika episode yang terakhir dimainkan.

Ini adalah salah satu bagian dari karya Shakespeare yang paling sering dikutip.


monolog

"All the world's a stage,
And all the men and women merely players;
They have their exits and their entrances;
And one man in his time plays many parts,
His acts being seven ages. At first the infant,
Mewling and puking in the nurse's arms;
Then the whining school-boy, with his satchel
And shining morning face, creeping like snail
Unwillingly to school. And then the lover,
Sighing like furnace, with a woeful ballad
Made to his mistress' eyebrow. Then a soldier,
Full of strange oaths, and bearded like the pard,
Jealous in honour, sudden and quick in quarrel,
Seeking the bubble reputation
Even in the cannon's mouth. And then the justice,
In fair round belly with good capon lin'd,
With eyes severe and beard of formal cut,
Full of wise saws and modern instances;
And so he plays his part. The sixth age shifts
Into the lean and slipper'd pantaloon,
With spectacles on nose and pouch on side;
His youthful hose, well sav'd, a world too wide
For his shrunk shank; and his big manly voice,
Turning again toward childish treble, pipes
And whistles in his sound. Last scene of all,
That ends this strange eventful history,
Is second childishness and mere oblivion;
Sans teeth, sans eyes, sans taste, sans everything." — Jaques (Act II, Scene VII, lines 139-166)

upaya penyelamatan bumi

Ramai-ramai Menyelamatkan Bumi dari Pemanasan Global


Kompas - 17 April 2008

Tanggal 22 April setiap tahun diperingati sebagai Hari Bumi (Earth Day). Inisiatif yang dimulai sejak tahun 1970 ini dimaksudkan untuk menjadikan bumi sebagai tempat yang lebih balk untuk ditinggali. Mengapa demikian?
Faktanya, dewasa ini bumi terasa kian tidak nyaman dihuni. Salah satu yang paling mengemuka adalah masalah perubahan iklim.

Memang benar bahwa pada dasarnya bumi selalu mengalami perubahan iklim. Hanya saja, pada masa lampau perubahan tersebut berlangsung secara alami dan memakan waktu yang sangat lambat. Dewasa ini, perubahan iklim terjadi akibat ulah manusia sehingga terjadinya sangat cepat dan drastis. Efek rumah kaca (greenhouse effect) yang sejatinya terjadi secara alami, yaitu proses di mana atmosfer bumi menangkap energi matahari yang menghangatkan bumi dan mendukung kehidupan di atasnya, kini mengalami banyak penyimpangan.

Atmosfer bumi mengandung gas rumah kaca (GRK) seperti karbon dioksida dan metana, yang memiliki kemampuan menangkap sinar inframerah matahari yang dipantulkan bumi. Semakin besar jumlah GRK dalam atmosfer maka semakin bumi pun semakin panas. Hal itulah yang menjadi penyebab mengapa iklim bumi dewasa ini kian panas.
Dari mana datangnya GRK? Karbon dioksida adalah gas yang terbentuk secara alamiah. Namun, gas tersebut juga dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil seperti pada kendaraan bermotor, perubahan penggunaan lahan, serta proses industri. Karbon dioksida merupakan GRK pokok yang memengaruhi keseimbangan radiasi bumi dan menjadi referensi untuk mengukur GRK yang lain. Pada bulan Maret 2006, kadar karbon dioksida adalah 381 ppm100 ppm di atas rata-rata kadar pada masa pra-industri.

Sementara itu, metana adalah gas yang dihasilkan antara lain oleh tumpukan sampah. Dengan demikian, tindakan membuang sampah sembarangan serta pengelolaan sampah yang kurang balk turut berkontribusi terhadap perubahan iklim yang mendatangkan pemanasan global.

Dapat dilihat di berbagai tempat di Indonesia, umumnya pengelolaan sampah diartikan sebagai membuang sampah jauh-jauh atau akrab dikenal sebagai TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Padahal, cara tersebut hanya memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain. Dan, yang pasti, tumpukan sampah tersebut akan menghasilkan gas metana yang membuat bumi kian gerah.

Berbagai upaya

Beruntung dewasa ini semakin suara-suara yang menggemakan perlunya kepedulian terhadap nasib bumi di kemudian hari. Dunia otomotif-sebagai salah satu pihak yang paling bertanggung jawab atas semakin tingginya polusi akibat kendaraan bermotor kini mulai terpacu untuk menciptakan produk yang lebih ramah lingkungan.

Seperti diutarakan Chief of Corporate Planning Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN Irwan Priyantoko, visi jangka panjang perusahaannya adalah membangun kendaraan yang ramal lingkungan atau "eco car'. Dewasa ini, Toyota sedang mengembangkan sejumlah model kendaraan hybrid, bahkan yang betul-betul tidak menggunakan bensin. Tidal hanya di produk, dengan kebijakan "kaizen" atau perbaikan terus menerus (continuous improvemenf), Toyota juga mengupayakan agar pabriknya menjadi "eco-friendly plant'. Hanya saja, terutama d Indonesia, kendalanya adalah masalah infrastruktur, seperti kualitas bahan bakar, kondisi jalan, hingga, daya beli masyarakat, yang mem buat produk ramah lingkungan seperti kendaraan hybrid belum menjadi prioritas.

Pabrikan mobil Honda juga termasuk pihak yang mengembangkan mobil hybrid. Seperti dijelaskan Director Marketing & After Sales Service PT Honda Prospect Motor, Jonfis Fandy, sudah sepatutnya teknologi hybrid dipelajari karena trennya mengarah ke sana, seperti teknologi solar cell, hidrogen, dan lain sebagainya. Bahkan, Honda sudah memperkenalkan mobil hybrid di Indonesia, melalui produk Honda Civic Hybrid.

Penghematan energi juga dapat menjadi salah satu langkah kepedulian terhadap nasib bumi. Misalnya saja dengan menggunakan peranti rumah tangga yang ramah lingkungan. Seperti diketahui, semakin panasnya suhu bumi membuat banyak rumah tangga menggunakan penyejuk udara (AC). Perangkat ini termasuk salah satu penyedot energi (listrik) yang sangat rakus. Produsen peranti rumah tangga kenamaan, Panasonic, telah mengembangkan produk ramah lingkungan, seperti dilakukan melalui AC Envio yang menggunakan teknologi inverter yang berfungsi mengatur kinerja kompresor. Dengan demikian, proses pendinginan dapat lebih optimal namun tetap hemat listrik.

Satu lagi inisiatif yang cukup signifikan sebagai aksi kepedulian terhadap bumi adalah melalui kegiatan yang diberi nama Green Festival. Aksi ini dimotori lima pihak yang tergabung dalam Green Inisiative Forum (GIF) sebagai kelanjutan dari Konferensi Internasional tentang Perubahan lklim yang digelar akhir tahun lalu, yaitu PT Unilever Indonesia Tbk, Kompas, FeMale Radio, MetroTV, dan Pertamina.

GIF dibentuk dengan tujuan menyebarluaskan kesadaran dan pengetahuan tentang isu pemanasan global serta mengedukasi dan melibatkan keluarga dalam upaya aktif mengurangi dampak pemanasan global, melalui cara yang sederhana mulai dari diri mereka, lingkungan terdekat, lingkup keseharian, dan dimulai dari sekarang. Selain kampanye melalui media, upaya sosialisasi dilakukan kegiatan Green Festival, yaitu Pameran dan Festival Lingkungan mengenai isu Pemanasan Global (Global Warming). Melalui kegiatan yang akan diadakan selama tiga hari (Jumat, Sabtu, Minggu) tanggal 18, 19 dan 20 April 2008, bertempat di Parkir Timur Senayan, Jakarta ini, masyarakat akan memperoleh edukasi tentang upaya-upaya apa saja yang bisa dilakukan untuk mengurangi factor-faktor yang menyebabkan terjadinya pemanasan global. Diharapkan, 100 ribu keluarga akan hadir dalam festival tersebut.

Masih banyak lagi sebenarnya upaya yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan bumi. Namun, dibutuhkan komunikasi yang tepat sehingga masyarakat lebih memahami dan akhirnya mau turut serta berperan dalam upaya tersebut.